Skip to content
Nat & Ver@NarasiVisual · Aug 26, 2026

Kamu sadar gak? Di tengah banyaknya bencana belakangan ini, ada satu isu penting yang hampir selalu kelewat: Perempuan…

12 tweets1 min read13.9Koriginal

Summary

Thread ini mengupas isu kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak di lokasi pengungsian bencana, yang terjadi berulang kali. Penyebab utamanya adalah desain shelter yang buruk dengan ruang terbuka tanpa privasi, MCK yang tidak aman, dan pengawasan minim. Penulis berbagi desain shelter alternatif dengan konsep rumpunan oktagon yang menciptakan ruang sosial aman dan pemisahan gender, serta tips praktis yang bisa diterapkan tanpa anggaran tambahan.

Summarized by ThreadOut AI from the full thread. May miss nuance — read the thread below.

  1. #1

    Kamu sadar gak? Di tengah banyaknya bencana belakangan ini, ada satu isu penting yang hampir selalu kelewat: Perempuan dan anak yang tinggal di pengungsian rawan mengalami kekerasan, bahkan pelecehan. Bencana meruntuhkan tatanan sosial dan keamanan, membuka celah bagi pelaku untuk bertindak tanpa takut sanksi. Tiga hari lalu, Menteri PPPA menyebut ada laporan dugaan kekerasan seksual di lokasi pengungsian mandiri di Kab. Sikka, NTT. Dan ini bukanlah yang pertama. A thread 🧵 by Narasi Visual

    Ayman Alatas@AymanAlatas · Aug 24, 2026

    Gempa NTT sudah menelan 100 korban jiwa, luka-luka 1.603 jiwa, 180.327 jiwa mengungsi dan telah terjadi 6409 kali gempa susulan.

  2. #2

    Kami sebenarnya sudah mendengar soal ini beberapa tahun lalu, waktu riset untuk sebuah sayembara desain shelter bencana. Awalnya kami pikir kasus seperti ini sesekali saja. Begitu ditelusuri, polanya ternyata berulang hampir di setiap bencana besar.

  3. #3

    Di Palu misalnya, pada 2018, enam bulan setelah gempa, tsunami, dan likuefaksi, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Palu mencatat sejumlah kasus di lokasi pengungsian. Mulai dari pengintipan orang mandi, percobaan pemerkosaan, pelecehan seksual, KDRT, hingga kekerasan terhadap anak.

  4. #4

    Di Lombok, pada tahun yang sama, perempuan takut mengganti pakaian karena tidak ada tempat khusus untuk itu. Satu tenda diisi beberapa keluarga sekaligus. Aceh, Desember 2025. Komnas Perempuan mengeluarkan pernyataan sikap merespons dugaan kekerasan seksual di tengah situasi bencana.

  5. #5

    Ada tiga penyebab utama yang disebut: - Ruang tidur yang terbuka. - MCK yang terbuka. - Dan tidak adanya ruang privat untuk keluarga. Ketiganya soal ruang. Masalah ini berkaitan erat dengan bagaimana tempat tinggal darurat disusun.

  6. #6

    Isu ini yang jadi fokus utama kami waktu mengikuti sayembara desain shelter evakuasi bencana yang diadakan CAREDS UNPAR. Bagaimana kalau unit shelter gak dibariskan seperti barak? Unit dirumpunkan jadi oktagon yang mengelilingi satu halaman terbuka.

  7. #7

    Efeknya sederhana tapi signifikan. Setiap unit menghadap halaman bersama. Ada ruang sosial yang aman. Pengawasan terjadi secara sukarela, tanpa disadari, melalui interaksi antar sesama pengungsi. Keseharian berjalan di ruang terbuka yang aman. Bukan tenda tertutup.

  8. #8

    Lalu yang gak kalah penting: unit dikelompokkan berdasarkan keluarga dan gender. MCK ada di dalam rumpun, bukan di ujung lapangan. Akses pria dan wanita dipisah dinding. Ruang produktif, area sekolah, dan area makan disatukan di rumpun tersendiri.

  9. #9

    Tapi jujur aja, desain kami tentu jauh dari sempurna. Dibuat waktu kami masih mahasiswa S1 dalam waktu terbatas. Misalnya, kami salah di pemilihan material. Kami menulis chipboard bersifat tahan api. Itu jelas ngaco, kecuali finishingnya diberi perlakuan khusus.

  10. #10

    Jujur kami lumayan grogi waktu ditunjuk sebagai finalis karena yang datang presentasi ternyata hampir semua dari kalangan mahasiswa S2 dan profesional. Tapi pada akhirnya, kami memenangkan salah satu dari 3 kategori juara yang diperebutkan, yaitu “Social Considerations”.

  11. #11

    Kami menang bukan karena desainnya lebih pintar, melainkan kebetulan menanyakan hal yang jarang ditanyakan orang. Standar hunian sementara mengatur luas minimum per orang, material yang efisien, logistik pengiriman bantuan, tapi hampir gak pernah mengatur siapa yang tinggal dengan siapa.

  12. #12

    Walau karya sayembara ini sebatas gagasan tak terbangun, ada beberapa hal kecil yang mungkin bisa diambil dan dikerjakan tanpa anggaran tambahan: 1. Kelompokkan tenda per keluarga, jangan acak 2. Hadapkan akses masuk ke ruang bersama, jangan saling membelakangi 3. Usahakan menaruh fasilitas MCK di dalam kelompok, jangan di ujung area terpisah 4. Pastikan penerangan yang memadai di malam hari Sediakan ruang yang aman bagi para pengungsi. #BahasDesain