Sebagai orang yg tinggal radius 100 m dari rel KA dan sejak kecil sampai sekarang hiburannya ke rel KA, aku mau…
Summary
Seorang penulis yang tinggal dekat rel kereta api menjelaskan mengapa masyarakat miskin bermain di rel sebagai hiburan gratis, terapi kesehatan alternatif, dan cara mencari validasi, sementara pemerintah gagal menyediakan fasilitas rekreasi yang aman. Mereka menekankan pentingnya kontrol kognitif, edukasi, dan akses kesehatan untuk mengurangi risiko kecelakaan, sambil mengapresiasi program-program sosial yang membantu masyarakat ekonomi lemah.
Summarized by ThreadOut AI from the full thread. May miss nuance — read the thread below.
- #1
Sebagai orang yg tinggal radius 100 m dari rel KA dan sejak kecil sampai sekarang hiburannya ke rel KA, aku mau cerita. Sebuah utas. 🧵
- #2
Kalau kalian perhatikan, mayoritas mereka yg mendiami wilayah sepanjang rel KA pasti masyarakat menengah ke bawah. Di sisi lain, pemerintah gagal menyediakan fasilitas bermain atau ruang terbuka untuk hiburan dan berkumpul masyarakat ini.
- #3
Dua kombinasi mantap: miskin dan pemerintah blo'on. Dari dua hal ini, turunannya banyak banget... macam-macam. Saking beragamnya, di mata orang normal akan terlihat, "Goblok amat main di rel, kan bahaya!" Jadi begini. Healing buat orang miskin sebetulnya penting.
- #4
Cuma karena sibuk memenuhi kebutuhan primer, hal ini ditepikan sejenak. Makanya kalau ada hiburan gratis, aji mumpung ramai-ramai turun. Kurang hiburan! Itu mengapa cuma rangkaian lokomotif membawa 6-12 gerbong dianggap hiburan. Cuma kereta lewat, tapi sudah bikin senang.
- #5
Jika ditanya, "Memang seru? Cuma kereta doang." Kalau gak seru, gak ada itu komunitas rail fans yg tersebar di berbagai kota di Indonesia, khususnya wilayah yg dilintasi KA. Anggotanya pun banyak, mulai dari anak-anak sampai orang tua.
- #6
Ok, balik lagi ke si miskin. Miskin ini berbanding lurus dengan tingkat pendidikan. Tingkat pendidikan rendah, otomatis wawasan tentang keamanan dan mitigasi bahaya gak efektif di otak orang-orang ini. Sebetulnya hal dasar, tapi faktanya kontrol kognitif orang-orang ini lemah.
- #7
Sulit menilai situasi pakai rasional, bakal kebingungan sendiri buat memutuskan sesuatu misal bahaya datang. Makanya kelakuan orang miskin suka bikin anak-anak X geleng-geleng kepala. Ya jelas kontrol kognitif kalian kuat. Cemerlang. Kalian dididik dengan baik.
- #8
Buat hal sederhana saja otak mereka ngebul, malah kalian paksa berpikir dan mencerna program-program Abah yg sebetulnya bagus, tapi njelimet. Dimaki-maki gara-gara memilih capres yg kasih makan siang gratis, padahal perut lapar lebih urgent.
- #9
"Kau tidak akan dapat memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya, hingga kau menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya." Harper Lee - To Kill a Mockingbird
- #10
Rel KA bagi orang miskin itu wahana rekreasi pagi atau sore hari. Sambil menyuapi anak, bersenda gurau dengan tetangga, atau lebih konyol lagi: tempat terapi. Banyak yg percaya kalau besi rel bagus buat penyakit, bisa menyembuhkan berbagai penyakit. 🗿
- #11
IYAAAK, lagi-lagi kemiskinan struktural. Efek minimnya akses kesehatan untuk masyarakat miskin. Fenomena ini mulai berkurang sejak berobat gratis pakai KIS. Makanya segebleg-geblegnya Mulyono, buat orang kayak aku tetap ada sisi positifnya.
- #12
Oh ya, juga fenomena di rel KA ada setan budek atau setan buta. Jadi orang yang menyeberang di rel KA bisa kemasukan setan budek (gak mendengar peluit KA) dan setan buta (gak melihat ada KA), akhirnya tertabrak KA. Kukasih tahu, ya. BOHONG. KAGAK ADA.
- #13
Rel KA itu tempat aku bermain sampai sekarang. Orang tertabrak kereta itu cuma ada 2 macam: 1. Memang mau bunuh diri. 2. Gak waspada. Poin pertama ini sering menjadi jalan pintas orang miskin untuk mewariskan harta ke kerabatnya yg hidup.
- #14
Orang tertabrak KA bakal cair santunan dari KAI. Nominalnya lumayan buat orang miskin, sekitar puluhan juta. Aku saksi hidup beberapa orang yg memutuskan mengakhiri hidup di rel kolong flyover Klender. Aku paham mana orang gak waspada dan mana yg memang mau bunuh diri.
- #15
Cerita lainnya, orang miskin perlu validasi. Di luar sana memang ada segelintir orang yang menganggap berdiri sepersekian detik di tepi rel yg keretanya sudah dekat itu adalah hal keren. "Ajg keren bat gw!" "Gak takut gw kan, njir keren bat dah!" "Liat nih, jago gw!" 🗿
- #16
Ya, mereka perlu validasi. Perlu dianggap hebat. Gak ada prestasi lain dalam hidup, makanya menantang maut adalah hal keren yg harus dirayakan. Aku pribadi sampai sekarang masih rutin bermain ke pinggir rel. Healing gratis. Angin sepoi-sepoi. Hiburan melihat KA lewat.
- #17
Sampai hafal nama-nama kereta dan jurusannya ke mana, karena di bodi gerbong suka ada papan nama kereta. Aku tipe waspada. Lebih sering di pinggir rel. Sekalipun duduk di rel, aku gak berani buka ponsel. Cuma betul-betul duduk sambil mata mengedarkan pandang ke kanan-kiri.
- #18
Bukan apa-apa, KA itu cepat banget. Misal aku sadar bakal ada kereta. Dari jauh cuma terlihat titik putih (lokomotif penarik gerbong). Estimasi masih jauh, aku duduk di Klender, tebakanku itu kereta masih di Kranji, Bekasi. Sumpah, titik putih itu cuma perlu waktu kurang —
- #19
— dari 20 detik sampai akhirnya melintas kencang di depan mataku. Nah, gak semua tetanggaku atau orang-orang ini paham. FYI, malah banyak orang tua membawa anak bermain ke rel. Anaknya diumbar di rel, emaknya sibuk ponsel. Sesama orang miskin pun aku jengkel bukan main!
- #20
Tipe manusia Indonesia yg cuma beranak-pinak, tapi gak diurus. Itu kereta ya anying! Dibikin dari besi/baja, bukan tepung terigu! Cerita lagi. Jadi dari Manggarai sampai Cikarang disebut DDT (double double track). Bahasa gampangnya, rel ada 4. Dua khusus KRL, dua kereta Jawa.
- #21
Dua khusus KRL ini jalur padat, 10 menit sekali pasti ada KRL melintas. Nah, anak-anak yg diumbar ini kadang main ke dua rel itu dong. 😅 Nanti ditegur orang, emaknya gak suk. Marah. Bisa ajang ribut.
- #22
Anyway, keponakanku usia 7 tahun juga suka KA. Kalau aku senggang pasti kuajak. Aku main aman. Gak pernah lepas pengawasanku. Peringatanku, "Gak nurut, pulang! Gak usah lihat KA lagi!" Alhamdulillah sejak aku bekerja, ada tabungan sedikit buat top up e-money.
- #23
Aku sudah mengurangi ke pinggir rel, tapi langsung mengajak jalan-jalan naik Commuter Line. Pergi tanpa tujuan, suka-suka kaki melangkah. Nanti ke Bogor, Nambo, sampai pernah random ke Rangkasbitung. 😂 Keponakanku bahagia banget, sampai punya cita-cita mau jadi masinis.
- #24
Ya begitulah, akhir kata semoga para korban mendapat tempat yg layak di sisi Tuhan, Amin. 🙏🏼
- #25
Buset rame. 😅 Kawan-kawan semua, aku gak membenarkan bermain di rel, ya! Aku cuma cerita dari apa yg kualami sehari-hari. Dan aku semakin sadar memang betulan miskin soalnya banyak yg gak related sama terapi di rel KA wkwk. Orang-orang ini ada! Eksis di Indonesia tercinta.
- #26
Mereka gak mampu membeli kursi pijat puluhan juta. Mereka gak ada duit berobat. Makanya pas ada isu kalau rel KA bisa buat terapi, ramai-ramai turun ke rel. "Katanya" bagus buat tubuh atau rematik. Nah, fenomena ini berangsur-angsur berkurang sejak berobat gratis pakai KIS.
- #27
Terus banyak yg komplain, "KIS dari zaman SBY, bukan bikinan Mulyono!" Fafifu wasweswos intinya berobat gratis Sabang-Merauke itu rata di zaman Mulyono. Aku 2008 usus buntu pecah di dalam, hampir mati ditolak 2 UGD karena miskin. Sekarang orang miskin sakit cukuplah punya —
- #28
— kartu BPJS, melenggang masuk UGD. Kalau parah malah langsung dirawat, gak lewat faskes 1. Aku gak membela rezim, tapi kalau mau fair memang apa adanya begini di akar rumput. Belum lagi kalau kubahas KIP yg embrionya dari KJP program Jokohok saat Pilkada DKI 2012.
- #29
Makanya kubilang masih ada "wangi". Lalu ada dua akun bilang aku jahat nirempati menjual kemiskinan. Ya ampun, ini aku yg miskin atau memang dua orang ini yg kelamaan di menara gading, entahlah. Kurasa juga ada beberapa salah menangkap pembahasanku tentang Abah.
- #30
Disclaimer, aku mencoblos Abah di Pemilu lalu. Aku pengguna setia JakLingko, di otakku ya siapa tahu se-Indonesia bisa merasakan nikmatnya program angkutan umum gratis ini jika kelak Abah menang. Mengapa kusinggung Abah di cuitan ini? Sarkas saja, kok. X ini buble Abah.
- #31
Ini pikiran SUBJEKTIF dariku. Anak Abah memang pintar-pintar. Bahasa ndakik-ndakik yg bikin puyeng, tapi sebetulnya bagus. Bandingkan sama yg simple: makan siang gratis. Nelayan kelaparan di hadapannya ada pancing+kail dan ikan, pastilah ikan yg diambil duluan. 😅